Nyatanya Langit Dapat Berubah

Oleh: GuriGiru | Bab 1: MISTERI PYON

Tengah malam yang sunyi. Dinginnya hawa menyelimuti kulit, hingga bulu kuduk berdiri merinding. Angin berhembus kencang dari sebuah lorong yang gelap, menghasilkan suara mendesis yang aneh dan mencekam. Tiada seorang pun di sana, kecuali seorang remaja yang sedang menggenggam tongsis dengan kamera ponsel yang menyala, menyoroti dirinya yang tampil sebagai karakter anime vtuber. Ia sedang melakukan live streaming vlog horor di sebuah rumah sakit terbengkalai yang konon angker, tempat yang katanya akan membuat siapa pun menyaksikan sebuah kengerian.

Namun, dia tidak peduli.

Namanya Reza, streamer muda yang selalu memburu tempat horor tanpa rasa takut sedikit pun. Baginya, hantu hanyalah takhayul dan fiksi belaka. Ia memanfaatkan keberaniannya untuk melakukan live streaming sebagai Vtuber ekspedisi horor. Tanpa menunjukkan wajah aslinya dan tampil sebagai karakter anime, ia berhasil meraih 20 ribu subscriber. Reza punya mimpi sederhana, yaitu mendapatkan lima orang teman di masa remajanya. Tapi justru dengan jumlah pengikut sebanyak itu, ia tak mendapatkan satu pun teman sejati, karena wajah aslinya tidak pernah ditampilkan sama sekali.

Di sekolah, Reza adalah sosok yang pendiam, tidak enakan, suka menyendiri, dan pemalu. Sifat itu lahir dari masa lalunya yang kelam. Saat SD, ia pernah membully seorang gadis seusianya, hingga ia dicap sebagai pembully yang menjijikkan. Sejak saat itu, perlakuan buruk selalu datang silih berganti, mulai dari penghinaan hingga kekerasan fisik. Reza selalu mengingat betapa menyesalnya ia atas perbuatan jahat itu, yang kini menjadi imbas bagi seluruh hidupnya. Ia selalu dijauhkan, dicap buruk, disakiti, dan ditinggalkan.

Sebagai streamer, ia biasa menyiarkan game horor atau vlog horor. Malam ini ia berada di rumah sakit terbengkalai yang gelap, kosong, dan dingin, seperti kehidupannya sendiri. Ia hanya membawa satu buah senter untuk menerangi ekspedisi malam ini.

Suasana membuat bulu kuduknya meremang, namun Reza bukan penakut. Kelemahannya hanyalah kejutan mendadak. Jika ada sesuatu yang tiba-tiba jatuh, ia pasti terkejut setengah mati, dan justru itulah yang selalu ditunggu-tunggu para penontonnya.

“Yah guys, kita berada di gedung yang katanya angker, tapi buat gua ini biasa aja sih.”

Setelah menyapa penonton, ia berjalan memasuki ruangan gelap yang nyaris tanpa cahaya. Berbagai barang berserakan di lantai, termasuk sebuah meja yang permukaannya tebal oleh debu dan jaring laba-laba. Seorang penonton memperingatkannya di kolom komentar bahwa ia melihat sesuatu yang aneh. Reza mengabaikannya, menduga itu hanya lelucon. Ia terus berjalan ke dalam, menyoroti setiap sudut dengan senternya yang mulai berkedip-kedip.

Lalu hal aneh itu terjadi.

Sebuah bayangan melesat cepat, melintas di balik lemari kaca berisi obat-obatan berjamur dan berdebu, penuh dengan sarang laba-laba yang menggelayut. Reza terkejut, melangkah mundur, dan hampir terjungkal jatuh.

Penonton benar-benar panik. Komentar membanjir deras:

[bang keluar dari sana!]
[beneran aku liat sesuatu!]
[serem ih, keluar cepet!]

Menyerah pada desakan itu, Reza memutuskan meninggalkan ruangan. Namun sesuatu terus memperhatikannya dari kegelapan. Instingnya berteriak bahwa ada ancaman. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, mungkin karena udara malam yang semakin mencekam.

Reza mempercepat langkahnya, melewati lorong-lorong yang menggema dengan suara sepatunya sendiri. Langkah demi langkah, seolah ada yang mengejar dari belakang. Ia berlari tanpa menoleh sekali pun.

Streaming-nya masih menyala. Para penonton menyaksikan layar yang buram sambil hanya mendengar suara langkah kaki dan napas Reza yang semakin berat dan terengah-engah.

Setelah berhasil keluar dari rumah sakit itu, Reza mengakhiri streaming-nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia terlihat lega, namun jantungnya masih berdegup kencang dan dadanya semakin sesak karena kelelahan. Ia menatap kembali gedung rumah sakit yang ditutupi dedaunan rambat dan retak-retak di dindingnya. Lalu berjalan pergi dari area itu.

Ia melewati gang sempit yang sunyi. Suara anjing menggonggong dari suatu tempat, jangkrik berderit tanpa henti, angin berhembus membawa dedaunan kering. Suasananya tak jauh berbeda dari dalam rumah sakit tadi.

Sesampainya di rumah, Reza membuka kunci pintu, masuk, lalu menguncinya kembali. Ia langsung duduk di ruang tamu yang sunyi dan dingin, mengistirahatkan tubuh sambil membayangkan betapa ngerinya kejadian tadi. Tubuhnya masih gemetar dan dadanya masih terasa sesak, entah karena apa.

Ia menghela napas panjang. Menatap langit-langit plafon. Lalu beranjak dan berjalan menuju studio streaming-nya yang sekaligus menjadi kamarnya.

Rumah itu sunyi. Hanya Reza yang ada di sini, sejak orang tuanya pergi saat ia masih SMP. Pertikaian rumah tangga yang tak pernah selesai. Ibunya menghilang tanpa kabar. Ayahnya menikah lagi.

Reza menatap pintu kamar orang tuanya sejenak, berharap dalam diam, “kalau saja mereka ada di sini.”

Ia lalu membuka pintu studio-nya, duduk di kursi streaming, dan menatap layar komputer. Menghela napas. Melamun sekitar lima menit. Setelah itu ia menyalakan PC dan menunggu. Tangannya yang memegang mouse masih sedikit gemetar karena kejadian tadi.

Begitu komputer menyala, ia berniat mengedit rekaman streaming tadi. Namun saat membuka ulang siaran itu, ia melihat komentar penonton membludak ribuan, semua khawatir karena ia mematikan streaming mendadak tanpa sepatah kata.

Karena rasa bersalah, ia kembali live sebentar untuk memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja dan hanya kelelahan. Setelah itu ia mematikan streaming dan mulai mengedit video.

Ia memasukkan rekaman ke software editing dan melihat dengan jelas penampakan itu. Sebuah bayangan hitam berbentuk bulat yang melesat cepat, persis seperti yang ia alami tadi. Bentuknya tidak jelas, namun Reza yakin itu bukan hantu. Ia memanfaatkannya untuk menarik penonton dengan judul: “Penampakan Aneh di Rumah Sakit Terbengkalai!”

Ia mengedit hingga larut. Matanya mulai kabur karena kelelahan, dan dalam kekaburan itu ia sempat berkhayal melihat sesuatu yang kenyal berwarna biru, bergerak, dan menatapnya diam-diam.

Lalu ia pun tertidur lelap, masih duduk di meja streaming-nya.


Keesokan paginya, cahaya matahari menerobos masuk dari celah-celah ventilasi, menerpa wajah Reza dan menyilaukan matanya. Suara burung berkicau dari luar menandakan hari yang cerah. Reza ingin melanjutkan tidurnya karena hari ini hari libur dari sekolah yang selalu menguras tenaga. Namun telinganya menangkap suara aneh dari sudut kamarnya.

“Pyon.”

Reza membuka mata dengan malas. Dan tepat di depan wajahnya terdapat sesuatu yang aneh. Sebuah benda bulat dan kenyal berwarna biru mengkilap, dengan sepasang mata hitam yang menatapnya dalam diam.

Reza masih memproses situasi itu karena baru saja terbangun. Ia menatap benda tersebut yang kembali berbunyi, “Pyon.”

“Pyon...” Reza membalas dengan suara lemas dan heran.

Beberapa menit ia menatap benda itu tanpa bergerak. Lalu kesadarannya penuh tiba-tiba. Ia pun terkejut setengah mati, kursinya terbalik ke belakang dan ia pun terjungkal ke lantai.

“Ini Cuma mimpi. Ini Cuma mimpi. Ini Cuma mimpi...” Ia mengulangnya sepuluh kali berturut-turut sambil telentang di lantai, berharap terbangun dari apa pun ini.

“Kamu sedang apa?”

Benda itu berbicara dengan nada polos, kepalanya miring sedikit seperti sedang heran. Reza bangkit dari lantai, memperbaiki posisi kursinya, lalu duduk kembali. Ia menatap benda bulat dan kenyal seperti jeli itu. Ia mencoleknya pelan.

“Pyon.”

Reza mencoleknya lagi.

“Pyon.”

‘Tadi... benda ini bicara?’

Ia masih sulit mencerna kenyataan ini. Terus menyentuh dan mencolek benda itu dengan ragu. Lalu makhluk itu memalingkan pandangannya ke layar komputer dan bertanya dengan penasaran.

“Reza, ini apa?”

Wajah Reza memucat seketika. Suara itu muncul langsung di dalam kepalanya. Ia terjungkal lagi dari kursi, bergumam tak karuan.

“Ini mimpi~ Ini mimpi~”

Benda itu melompat mendekati Reza yang masih terbaring menatap langit-langit. Dengan penasaran, makhluk itu ikut menatap langit-langit juga, lalu bertanya, “Kamu menatap apa?”

Reza berhenti bergumam. Kemudian melompat berdiri dan berteriak sekencang yang ia bisa, seperti seorang pria sejati yang baru melihat hal paling mengejutkan dalam hidupnya. Untungnya ruangan itu kedap suara karena digunakan untuk streaming.

“Ke-kamu, kenapa?” tanya makhluk itu polos.

Suaranya imut, seperti suara gadis kecil yang lugu. Reza berdiri mematung, mengamati makhluk itu dari jarak dekat.

“K-kamu ini... apa?”

Dengan gemetar, Reza bertanya. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia berhadapan dengan jeli yang bisa berjalan dan berbicara.

“Aku?...” balas makhluk itu pelan, dengan nada yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Y-ya...”

Pipi Reza memerah tanpa disadari. Benda itu benar-benar menggemaskan, membuatnya ingin mengelus atau bahkan memeluknya.

“Aku... tidak tahu?”

Jawaban itu jatuh dengan nada muram. Makhluk itu tampak sedang mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri. Reza menghela napas kecil, kecewa karena tidak bisa langsung mengidentifikasi makhluk apa ini.

Namun kemudian sebuah ingatan muncul. Benda ini mirip dengan makhluk dari game atau anime fantasy yang pernah ia tonton. Reza bergegas duduk dan membuka komputer. Ia mengetik “slime fantasy” di mesin pencari, dan hasil yang muncul cukup lengkap.

Ada satu karakter yang paling mirip: Sui, monster slime yang menggemaskan dari seri anime dan novel ringan “Campfire Cooking in Another World with My Absurd Skill.” Namun makhluk di hadapannya ini sedikit berbeda karena dapat menggerakkan tubuhnya layaknya manusia dan mampu mengeluarkan tangan meski tidak dengan kaki.

Reza menatap makhluk itu dengan mantap.

“Baiklah. Nama kamu adalah UI, dibaca Yui. Kamu ngerti?”

Makhluk itu terdiam, tampak sedang mencerna kata-kata itu.

“Namaku... UI...”

Ia mengulangnya pelan beberapa kali.

“Aku UI! Kamu Reza!”

UI melompat-lompat kegirangan, memantul-mantul di atas meja dengan riang. Reza masih bertanya-tanya dari mana makhluk ini berasal. Ia kembali mencari di internet tentang “jeli yang berbicara” dan “slime isekai.” Dari semua hasil pencarian, satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengarah pada konsep yang disebut “isekai,” dunia lain atau dunia fantasy yang biasa muncul dalam anime, novel, atau game.

Tentu saja Reza masih tidak sepenuhnya percaya. Ia menatap UI yang saat ini tengah membolak-balik sebuah novel miliknya, buku yang bahkan Reza sendiri sudah lupa pernah membelinya.

Yang paling mendesak sekarang adalah: bagaimana Reza menerima kenyataan bahwa tiba-tiba ada makhluk berbentuk jeli yang bisa berjalan dan berbicara layaknya manusia di dalam kamarnya?

Reza berdiri dari kursi. Matanya tiba-tiba menggelap dan kepalanya berdenyut pusing karena terlalu lama duduk, ditambah pikirannya yang selalu penuh. Badannya sempoyongan hampir jatuh, namun pandangannya kembali normal dalam sekejap. Ini bukan hal baru baginya.

Saat keluar dari studio dan meninggalkan UI yang masih asyik membaca, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan.

“Assalamualaikum.”

Reza mengenali suara itu. Ia menghela napas pelan sebelum membuka pintu.

“Walaikumsalam, sebentar.”

Di depan pintu berdiri seorang pria berjaket hitam dengan celana jeans panjang, helm masih terpasang di kepalanya. Penagih hutang. Hutang warisan dari orang tua yang kabur tanpa tanggung jawab.

“Biasa, Bang...” ucap penagih itu sambil membuka buku catatannya.

“Duh, maaf ya, belum ada.” Reza menggaruk pipinya dengan telunjuk meski tidak gatal sama sekali.

“Wah, gimana ya, saya harus setoran ini.”

“Ehm, besok deh, aku usahain ya, Pak.”

“Hmm, oke. Besok saya kembali lagi. Janji ya, besok!” Penagih itu mengangguk, mengenakan kembali sandalnya, lalu menaiki motor dan sempat melambai sebelum pergi.

Reza menutup pintu. Lalu duduk di kursi ruang tamu, menghela napas panjang, menatap langit-langit plafon.

‘Hah... gimana ya... duit belum ada, kemarin abis ditagih bank karena Bapak, sekarang penagih dari Ibu pula. Ngerusak hari libur aja.’

Ia memang streamer dan YouTuber, tapi penghasilannya selalu habis untuk menutup hutang-hutang orang tuanya yang pergi tanpa meninggalkan apa-apa selain tagihan. Reza membenci mereka, tapi di sudut hatinya ia masih berharap mereka ada di sini, untuk menjadi pendukungnya.

Tanpa ia sadari, UI sudah mendekat dan sedang menatap wajahnya diam-diam. Sepasang mata hitam bulat itu tampak murung, seolah makhluk kecil itu sedang berusaha memahami rasa yang tersimpan di balik ekspresi Reza.

Reza yang baru sadar hanya menatapnya sebentar, lalu bangkit menuju dapur. Ia mengambil panci, sebungkus mie instan goreng, dan sebutir telur dari kulkas. Lalu terpikir sesuatu: apa yang biasa dimakan slime?

Di anime, slime digambarkan sebagai omnivora, pemakan segalanya. Jadi Reza menatap tumpukan piring kotor di wastafel, lalu memanggil UI.

“Yui, kamu bisa bersihin ini?”

Ia mengangkat satu piring kotor berlemak yang menguning. UI mengangguk, lalu langsung melahap piring itu beserta piringnya sekalian.

“HEI, BUKAN SAMA PIRINGNYA! DUH...”

Reza menghela napas, lalu mengajari UI sekali lagi dengan lebih sabar.

“Gini, kamu bisa nggak, Cuma bersihin bagian kotor ini saja?”

Ia menunjuk noda di permukaan piring. UI mengangguk, lalu menelan hanya bagian kotornya saja. Dalam sekejap, piring itu bersih seperti baru keluar dari toko. UI menyimpulkan bahwa kotoran itu “cukup enak.”

Reza tertawa kecil. Jadi UI bisa dipakai untuk mencuci piring. Hemat sabun, hemat air.

“Bagus, Yui! Kamu hebat!” Reza mengulurkan tangan secara refleks untuk mengajak tos.

UI menatap tangannya dengan bingung. Reza lalu mengajarinya pelan-pelan hingga akhirnya UI mengerti, dan mereka pun berhasil tos bersama untuk pertama kalinya.

Reza memasak dua bungkus mie goreng. Setelah matang dan tersaji di piring, ia berjalan ke ruang tamu diikuti UI yang melompat-lompat di belakangnya dengan suara kenyal seperti mochi yang dilempar.

Mereka duduk berdampingan. Reza menaruh satu piring di sisi UI. UI mengamatinya sebentar, lalu meraih piring itu dengan tubuhnya yang bisa melar bagai slime sungguhan. Dan dalam sekejap, mie itu lenyap.

UI melompat-lompat dan menyatakan bahwa itu adalah makanan terenak yang pernah ia makan.

Reza ikut tersenyum. Semua beban yang menumpuk di kepalanya seketika terasa ringan karena tingkah UI yang tanpa sadar sudah menggemaskan hatinya.

Setelah makan, Reza meminta UI membereskan tumpukan cucian piring. UI langsung melesat dan menyelesaikannya dalam hitungan detik tanpa noda sedikit pun. Mereka kembali tos, dan Reza pun berjalan masuk ke studio untuk memulai jadwal streaming game-nya.

Ia menyalakan komputer, melirik UI yang dari tadi mengamatinya penuh rasa ingin tahu.

"Yui, kalau aku lagi begini, jangan berisik ya."

UI mengangguk meski tampak bingung. Reza menjelaskan sedikit lebih rinci hingga UI akhirnya paham: kalau Reza sedang beraktivitas seperti itu, UI tidak boleh mengeluarkan suara.

Reza menyiapkan aplikasi streaming dan game-nya, lalu memulai siaran.

"Halo guys, kembali lagi sama gua si Zheon!"

Avatar karakter anime-nya bergerak mengikuti ekspresi wajahnya secara real-time. Penonton langsung menanyakan soal kejadian semalam. Rupanya video ekspedisi rumah sakit itu sudah viral, dan Reza sama sekali tidak menyadarinya.

Subscriber-nya bertambah drastis. Banyak yang meminta ia kembali ke rumah sakit itu, sementara sebagian lainnya melarang karena khawatir akan keselamatannya. Reza memanfaatkan momen itu dan mengumumkan bahwa minggu depan ia akan kembali berekspedisi ke tempat yang sama, karena ia sendiri masih penasaran dengan penampakan yang ia lihat itu.

Streaming berlanjut penuh tawa, teriakan, dan sesekali amarah saat kalah dalam game. Energi itu membuat penonton betah berlama-lama menontonnya. Sebagian besar penontonnya adalah perempuan, dan jumlah mereka terus bertambah, bahkan mulai menjangkau penonton dari luar negeri. Reza merasakannya dan semakin bersemangat.

Selesai streaming, Reza berbaring di kasur sambil membuka ponselnya yang penuh pesan dari para penagih hutang. Ia menjawab beberapa, menghapus sebagian tanpa alasan. Lalu matanya jatuh pada UI yang masih mematung di sudut kamar, berdiam diri karena masih mematuhi perintah Reza tadi.

Reza tertawa pelan, lalu berkata, "Yui, sekarang boleh ngomong lagi."

UI langsung melompat ke atas kasur tempat Reza berbaring, membuatnya terkejut dan refleks melompat juga.

"WOAH—!"

Ia masih belum terbiasa dengan kehadiran makhluk ini. Masih ada satu pertanyaan besar yang terus menggelayut di pikirannya: untuk apa UI datang ke kehidupannya?

UI hanya menatapnya heran, lalu menunjuk ponsel yang ada di tangan Reza.

"Itu... apa?" tanya UI pelan dengan suara imutnya.

"O-oh, ini namanya ponsel." Reza membalikkan layar ponsel ke arah UI, memperlihatkan isinya.

Sinar matahari pada tengah hari. menembus ventilasi, menciptakan garis-garis cahaya terang yang membelah debu-debu di udara kamar. Di luar, terdengar sayup-sayup suara azan dan bising kendaraan yang lewat, namun di dalam studio kecil itu, suasananya terasa berbeda.

Reza menatap UI yang binar matanya tampak memantulkan cahaya layar ponsel. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, di tengah hari bolong yang biasanya terasa hampa dan penuh tagihan, Reza merasa rumahnya tidak lagi sesunyi biasanya
.
Terbit pada: 29 April 2026, 18:14