One Crazy

Oleh: GuriGiru | Bab 1: Prolog : Karakter Utama

Aku membenci sekolah. Kurasa, tempat itu bukan lagi wadah yang pas untukku bernaung. Aku sering sekali berpindah-pindah, dari satu gerbang ke gerbang lain, hanya karena ketidaknyamanan yang tak bisa ku jelaskan. Di sana, aku selalu sendiri.

Kamar adalah duniaku. Ruang sempit yang nyaman, tempat aku bisa menyendiri, tanpa bayang-bayang orang lain.

Pagi menjelang siang sering ku lewati dalam lelap, sore hari adalah waktu sakralku bersama game, dan malam hari ku tuntaskan dengan menatap layar laptop, ditemani alunan kisah anime. Begitu terus, siklus membosankan yang berulang.
Suatu sore, di tengah asyiknya menyelami alur film, sebuah notifikasi muncul di layar. Sebuah game baru, akan dirilis akhir tahun nanti.

Tanpa pikir panjang, aku mendaftarkan diri, menanti tanggal peluncurannya dengan antusiasme yang langka.

Hari-hari berlalu, diselingi game-game lama yang mulai terasa hambar. Sampai akhirnya, game yang kutunggu tiba, terinstal otomatis di perangkatku.

"One Crazy, game apa ini?"
One Crazy rupanya adalah game simulasi kencan. Di dalamnya, aku bisa mengencani gadis mana pun sesuka hati, bahkan membangun harem dengan mengandalkan pesona sang karakter utama.

Waktu seolah lenyap, aku tenggelam dalam dunia virtual itu dari siang hingga dini hari.

[Aku... Ingin selalu bersamamu]

"Akhirnya selesai juga, tapi kok kecewa ya, heroine yang menang bukan yang kusuka..."
Cerita game itu tamat setelah heroine utama berhasil merebut hati pemeran utama. Namun kekecewaan menghampiri, sebab sang pemenang adalah heroine dengan karakter licik. Ia rela melukai heroine lain demi tujuannya.

Game ini mendapat rating rendah. Anehnya, aku tak mengerti mengapa. Padahal, ceritanya cukup memikat. Mungkin, seleraku saja yang memang buruk.

Setelah menuntaskan game itu, tubuhku limbung ke kasur, terlelap dalam keletihan yang mendalam.

"Hayato-kun?"

Suara seorang gadis asing menerobos pendengaranku, ia menatapku, namun wajahnya samar.

"Yah?"
Aku mengigau, lalu terbangun di kamarku yang berantakan, seperti biasa.

Pintu kamarku diketuk, lalu terbuka. Ibuku muncul, menyuruhku membersihkan ruangan yang sudah menyerupai kapal karam. Karena senggang dan kurasa memang sudah saatnya, aku membersihkan setiap sudut kamar hingga bersih.

"Bu, sampah ini buang ke mana?" teriakku, memanggil ibuku.

"Simpan saja di dekat gudang!" sahut ibuku dari lantai bawah.

"Hah... Aku harus keluar buat buang sampah?" gumamku, menatap pintu kamar.

Sesuai perintah ibu, aku beranjak keluar, membawa tumpukan sampah. Niatku setelah itu adalah kembali ke kamar, namun mataku menangkap sesuatu yang aneh, mirip sebuah bug yang muncul di dunia nyata.

"Aku sudah gila?" gumamku heran, lalu beranjak pergi.

Aku melangkah menuju tangga untuk kembali ke kamar, namun ibuku kembali memanggil.

"Rey, kau sudah membnshdka nya?"
Suara ibuku tiba-tiba terdengar aneh, kata-kata yang diucapkannya seperti terbalik. Aku terheran dan bertanya balik.

"Apa Bu?"

"Ka-------"
Suara ibuku mendadak menghilang, digantikan oleh pusing yang menyerang kepalaku. Penglihatanku memburam, kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku. Aku ambruk di tangga.

Mungkin ini efek begadang.

Begitu pikirku.

Namun...

"Hayato, kamu tidak apa-apa?"
Suara gadis di mimpiku kembali terdengar, namun kali ini terasa cukup familiar...

"Hayato, Hayato-kun?"
Teriakan gadis itu membuatku tersadar, membuka kedua mataku. Namun, penglihatanku tetap buram.

"Hayato..."
Gadis itu berseru ke arahku, menggoyangkan tubuhku dengan kedua tangannya yang mungil.
Tiba-tiba, benda di wajahku terjatuh. Itu kacamata. Jadi, penglihatanku buram karena kacamata?

"Ah, maaf kacamata kamu jatuh."
Gadis itu terkejut, lalu mengambil kacamata yang tergeletak.

"Ini."
Ia mengembalikan kacamata yang jatuh padaku.

Aku terpaku menatap wajahnya yang cantik: rambut pink pendek, mata biru, bibir lembut, tubuh mungil yang dibalut dress one piece. Gadis itu benar-benar menyerupai karakter anime yang menjelma ke dunia nyata.

"Ada apa?"
Gadis itu tersipu karena tatapanku.

Aku menyadari siapa gadis ini. Dia adalah Kawai Akane, heroine yang kalah di game yang kumainkan kemarin. Sifatnya agak kasar, namun penyayang.

"Gadis tsundere," begitulah aku menyebutnya.

Tapi... kenapa dia ada di hadapanku?
Aku sempat bingung, lalu menatap sekitar. Pemandangan ini cukup asing. Aku berada di sebuah taman dekat sungai, duduk di bangku taman yang panjang bersama Akane.

"Ada apa?"
Tanya Akane, dia heran melihatku menatap sekeliling seperti orang yang baru tiba di tempat asing.

"Kita di mana?"
Tanpa berpikir panjang, aku bertanya sambil terus mengamati sekitar.

"Hah? Otakmu sudah hilang gara-gara bola tadi?"

"Bola?"

"Hah..." Akane menghela napas. "Kamu tadi kena bola nyasar yang melaju kencang ke sini," jelasnya, namun pandangannya tak tertuju padaku.

"Bola...." Aku bergumam, mencoba mengingat sesuatu.

Aku mengingatnya. Di dalam game, pemeran utama terkena bola yang melaju kencang ke arahnya, dan akhirnya ia mengalami amnesia selama sehari.

'Tidak masuk akal,' gumamku, tersenyum layaknya orang gila.

"Kamu kenapa? Otakmu benar-benar nggak beres, ya?"

"Gara-gara bola tadi, aku sepertinya agak pusing... Haha," tawaku, lalu tersenyum lembut pada Akane.

"Y-ya, baguslah kamu nggak apa-apa." Wajah Akane mendadak memerah seperti stroberi.

Wajahnya lucu sekali saat tersipu begitu.

'Aku ingin menikahinya...'
"Ba-baiklah, aku harus pergi, aku lupa ada pekerjaan yang harus kulakukan." Akane tiba-tiba berdiri dari bangku, wajahnya masih memerah.

"Y-ya, sampai nanti." Aku melambaikan tanganku.

Akane berlari bagai kuda liar, sangat cepat! Ya, aku tahu dia memang atletis...

'Sekarang, kenapa aku ada di sini? Seingatku, aku lagi naik tangga mau masuk kamar, lalu ibu memanggil, tapi...'

"Kenapa aku tiba-tiba di sini?!"
Hari mulai gelap. Aku terlalu banyak berpikir hingga lupa waktu.

Jika aku berada di dalam game, berarti aku adalah Hayato Harutora. Ciri-cirinya: aku bersama Akane, mengenakan kemeja putih yang ditutupi jas, dan celana rapi.

Tunggu dulu... Ini kan....

"Seragam sekolah??!!"

Aku baru ingat jika Hayato memang seorang siswa SMA kelas 3.

'Hayato...'

AKU BENCI SEKOLAH....

Matahari terbenam. Aku berjalan menuju apartemen yang Hayato tinggali. Karena sering melihat beberapa adegan yang menampilkan apartemen Hayato, aku mengingat letaknya dengan baik.

Aku memasuki lobi apartemen, menaiki lift, dan tiba di depan pintu apartemen Hayato. Di samping pintu, terdapat plat besi bertuliskan [Harutora], nama marga Hayato.

Hayato tinggal sendiri di apartemen ini, ingin hidup mandiri. Namun, karena kondisi ekonomi orang tuanya yang sulit, ia selalu bekerja paruh waktu sepulang sekolah.

Aku memasukkan kunci dan membuka pintu. Suara kunci yang terbuka memecah keheningan di dalam apartemen.

Saat kubuka, barang-barang di apartemen cukup rapi, bahkan terlihat seperti baru. Mungkin saja Hayato selalu menjaga kebersihan, berbeda denganku.

Aku melangkah ke arah balkon. Betapa indahnya pemandangan yang tersaji: kota-kota terlihat memukau, gedung-gedung menjulang tinggi, lampu-lampu menghiasi kota layaknya bintang yang bersinar.

Ketika aku sedang asyik menikmati pemandangan, aku melihat seorang gadis dari balkon sebelah. Mungkin itu tetangga Hayato.

Setelah kuperhatikan, gadis ini adalah Nino Hayase. Dia heroine yang kalah di game. Rambut pendek hitamnya khas dengan pita di rambutnya, wajahnya cantik bagai boneka, kulitnya putih mulus hampir seperti susu. Sifatnya agak kikuk, itulah pesona dirinya.

Karakter yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Nino Hayase adalah teman satu kelas Hayato. Berbeda dengan Akane, dia cukup pendiam di kelas, bahkan untuk mendekati Hayato saja harus menunggu lima chapter.

Mungkin karena aku memandanginya terlalu lama, Nino melirik ke arahku. Hal itu membuatku tersipu dan mulai salah tingkah.

"A-anu, maaf mengganggu." Tiba-tiba Nino berbicara kepadaku dan lari begitu saja. Sekilas terlihat wajahnya memerah.

Dia terlalu imut.

Aku yang masih terkejut dan heran kembali masuk ke apartemen.
"Apa-apaan tadi, dia imut sekali!" Aku masih tak menyangka, berlutut sambil memegang dada, rasanya jantungku ingin copot.

Aku berdiri, berniat mengganti pakaian di kamar. Ada dua kamar di apartemen ini: kamar yang dekat dengan pintu keluar dan kamar yang dekat dengan balkon. Kamar Hayato berada di dekat balkon, jadi tiap malam ia bisa memandang langit sambil terlelap.

Di dalam kamar Hayato, barang-barang tertata rapi. Kamar ini cukup biasa saja.

Aku menggeledah beberapa barang, namun tak menemukan hal aneh.
"Mungkin saja aku dapat petunjuk untuk kembali ke tempat asalku." Namun yang kutemukan hanyalah catatan untuk bekerja.

Betapa pekerja kerasnya Hayato, sangat berbeda denganku yang hanya berdiam diri di kamar. Hayato tiap hari bekerja untuk mendapatkan uang dan mengirimnya ke orang tuanya.

"Jadi ini rasanya hidup mandiri."
Aku beranjak ke kasur, menatap langit-langit kamar yang bersih.
Aku tak bisa langsung terlelap. Biasanya aku tertidur setelah bermain game atau menonton anime. Namun Hayato hanya memiliki ponsel lipat jadul dan televisi. Karena biaya internet dan listrik mahal, ia menghematnya.

Aku membuka ponsel lipat milik Hayato. Ponsel ini lumayan tua, namun masih layak dipakai. Aku melihat isinya, namun tidak ada yang menarik, hanya ada kontak orang tuanya dan beberapa nama yang tidak kukenal.

"Hah... Ini bukan anak SMA namanya." Aku menghela napas dan meletakkan ponsel. Sambil berbaring, aku menatap langit-langit dan mencoba tidur.

Tanpa sadar hari sudah pagi. Alarm berbunyi menggema di seluruh kamar. Aku memiliki telinga yang sensitif, jadi dengan cepat terbangun lalu mematikan alarm.

"Ternyata bukan mimpi." Aku mengira semua kejadian ini hanyalah bunga tidur, namun ini terlihat begitu nyata.
Terbit pada: 29 April 2026, 20:44